Dokumentasi Uprak – Delicia Febrilya Sakkung/XII A1/06

Dalam uprak kelas saya, saya dipercayakan untuk menjadi sie publikasi dan dokumentasi. Peran ini sangat saya sukai, karena bagi saya mendokumentasikan setiap proses, tawa, dan kerja keras kami adalah hal yang menyenangkan. Foto dan video yang kami ambil bukan sekadar konten, tetapi kenangan yang suatu hari nanti akan selalu kami ingat dan kenang bersama. Di awal, sie publikasi bahkan belum terbentuk. Saya bersama beberapa teman membantu sie perkap membuat properti seperti pada foto diatas. Setelah sie publikasi terbentuk, kami mulai menyusun konsep feeds, menentukan color palette, dan mendokumentasikan setiap kegiatan pada latihan kami. Di balik itu semua, tentu ada rasa lelah. Sepulang uprak yang terkadang sampai rumah pukul 10 malam, kami masih harus melanjutkan proses editing video dan konten yang akan dipublikasikan. Namun, saya percaya bahwa publikasi juga mempunyai peran penting. Melalui publikasi, orang-orang dapat mengenal tokoh utama kami, memahami alur drama, dan tertarik dengan penampilan drama yang akan kami tampilkan. Di situlah kami berusaha memberikan kesan terbaik. Dan setelah selesai memposting ada kepuasan dan kesenangan tersendiri bagi kami.

Selain menjadi sie publikasi dan dokumentasi, saya juga berperan sebagai aktor sampingan. Saya memerankan seorang istri nelayan yang berakting dengan panik dan khawatir akan badai, serta menjadi sosok yang memanggil salah satu tokoh penting, sang ibu. Awalnya saya merasa cemas karena harus berakting dengan emosi panik dan histeris, sesuatu yang tidak biasa bagi saya. Namun karena adegan ini menjadi pembuka menuju klimaks, saya berusaha memberikan yang terbaik.Saya juga menjadi bagian dari penari dalam drama ini. Meskipun saya tidak memiliki latar belakang menari dan sempat merasa kesulitan, saya merasa sangat senang karena kami melakukannya bersama-sama. Kami juga dibantu dan dibimbing oleh tim koreografi, terutama Naomi yang sabar dan tetap semangat dalam mengajarkan kami. Kelas kami didominasi oleh siswa laki-laki, dan memang tidak mudah bagi sebagian dari mereka bahkan tokoh utama kami untuk bergerak secara luwes. Tetapi karena kami berproses bersama, latihan-latihan itu menjadi momen yang paling berkesan dan menyenangkan bagi saya, terutama saat kami bernyanyi dan bergerak bersama pada flashmob dengan penuh kebersamaan.
Berada di kelas A1 adalah sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagi saya. Kami memulai perjalanan ini dengan banyak tantangan, naskah yang belum sempurna, perbedaan pendapat, hingga kesulitan mengatur jadwal latihan. Kami memulai latihan kami sejak bulan November, proses panjang selama empat bulan tentu melelahkan. Namun perlahan, kami belajar untuk saling mendengarkan, berdiskusi, dan percaya satu sama lain.

Uprak ini bukan hanya tentang sebuah drama. Uprak mengajarkan saya tentang kerja sama, tanggung jawab, pengorbanan, dan arti kebersamaan. Kami tumbuh menjadi lebih dekat, bukan hanya sebagai teman sekelas, tetapi sebagai keluarga dari A1. Kami sangat bangga dengan kerja keras kami selama 4 bulan ini, dan momen yang tidak akan saya lupakan adalah ketika flashmob bersama dan setelah selesai kami menangis di backstage. Tangis itu bukan karena sedih, tetapi karena bangga dan haru atas perjuangan panjang yang akhirnya terbayar. meskipun banyak kekurangan dari kelas kami, kami tetap bangga karena bisa menampilkan yang terbaik untuk diri kami dan orang-orang yang kami cintai. Saya akan selalu menyimpan kenangan ini dengan rasa syukur. Saya bangga menjadi bagian dari A1, dan saya bangga atas kerja keras kami selama empat bulan yang penuh cerita, pelajaran, dan kebersamaan.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Latest Comments