Dokumentasi Uprak XII-A1_SergiusNGH_32_KoordinatorMusik&Aktor

Dalam ujian praktik drama ini, saya memegang dua peran sekaligus, yaitu sebagai koordinator sie musik dan sebagai aktor, meskipun sejak awal saya tidak memiliki pengalaman menjadi koordinator, terutama di bidang musik. Jam terbang saya dalam musik yang rendah sempat membuat saya takut tidak mampu memimpin tim, mengambil keputusan yang tepat, dan memahami kebutuhan teknis yang diperlukan. Namun, dukungan dari anggota sie musik serta inisiatif saya untuk belajar hal baru menjadi solusi utama yang membantu saya melewati keraguan tersebut. Pada hari pertama terpilih sebagai koordinator, kami langsung mengadakan meeting melalui Discord untuk membahas rancangan awal konsep musik, termasuk rencana perekaman inner monologue serta bedah scene untuk membangun gambaran musik tiap adegan. Setelah itu, kami menguji ketepatan musik melalui run through seluruh scene untuk memastikan sinkronisasi dengan dialog, gerakan, dan perpindahan adegan. Ketika ditemukan masalah seperti musik yang terlalu cepat, terlalu lambat, atau emosinya kurang kuat, solusi yang kami lakukan adalah mengganti musik, memotong bagian tertentu, atau mengatur ulang timing audio. Proses evaluasi berulang ini menjadi fondasi penting agar musik benar-benar mendukung jalannya drama secara maksimal.

Drama yang kami bawakan merupakan drama semi musikal dengan konsep yang terinspirasi dari drama musikal modern, sehingga musik berperan sebagai penggerak emosi cerita, bukan hanya sebagai latar. Tantangan utama dalam proses ini adalah mencari musik yang sesuai dengan suasana skrip sekaligus bebas dari masalah hak cipta, serta memiliki durasi yang pas dengan adegan. Solusi yang kami lakukan adalah mencari referensi dari library musik bebas copyright, kemudian mengedit ulang audio menggunakan sound editor untuk menyesuaikan durasi, volume, serta transisi. Tantangan lain muncul dari keterbatasan kemampuan teknis saya dalam menggunakan OBS, terutama dalam mengatur playback audio secara live dan ketiadaan fitur soundboard bawaan. Solusi yang saya lakukan adalah belajar secara mandiri melalui tutorial, mencoba berbagai pengaturan, memasang plugin soundboard tambahan, serta memanfaatkan fitur transition untuk membuat efek fade in dan fade out agar perpindahan musik terdengar lebih halus. Selain itu, ketika terjadi revisi besar H-1 yang mengharuskan kami mencari musik baru dalam waktu singkat, masalah utama yang muncul adalah tekanan deadline. Solusi yang kami lakukan adalah membagi tugas secara jelas, bekerja lebih intens, dan memperkuat komunikasi tim agar proses pencarian, editing, input, dan testing audio dapat selesai tepat waktu.

Selain bertugas sebagai koordinator musik, saya juga berperan sebagai aktor yang memerankan tokoh nelayan kedua bernama Rusdi, yang memiliki keyakinan agama kuat dan bersikap sinis terhadap karakter Lugano. Tantangan dalam peran ini adalah memahami sudut pandang karakter yang berbeda dari diri saya serta menampilkan emosi secara meyakinkan dalam drama semi musikal yang menuntut akting, bernyanyi, berdialog, dan koreografi secara bersamaan. Solusi yang saya lakukan adalah berlatih olah pikir untuk memahami karakter, olah hati untuk menghayati emosi, olah raga untuk membangun gestur dan bahasa tubuh, serta olah rasa agar ekspresi terasa natural. Tantangan lain adalah membagi fokus antara tanggung jawab teknis sebagai koordinator dan performa sebagai aktor. Solusinya adalah manajemen waktu yang disiplin, latihan yang konsisten, serta koordinasi yang baik dengan tim. Dari seluruh proses ini, saya belajar bahwa masalah dalam produksi drama tidak bisa dihindari, tetapi dapat diselesaikan dengan kerja sama tim, kemauan belajar, dan keberanian mencoba hal baru.

 

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Latest Comments