
Terima Kasih Teman-Teman, Sudah Selesai!
Memerankan anak dari Francesco Lugano bukan sekadar tampil di atas panggung dan menghafal dialog. Buat saya, ini tentang berdiri di tengah badai yang bukan saya ciptakan, tapi harus saya hadapi. Sebagai anaknya, saya merasakan konflik antara rasa hormat dan kekecewaan, antara kebanggaan dan luka. Ada momen di mana saya harus menahan emosi, ada juga saat saya harus meledak tanpa kehilangan kendali. Tantangan terbesarnya bukan pada teknis akting, tapi pada bagaimana saya membuat penonton percaya bahwa hubungan itu nyata; bahwa ada sejarah, ada cinta, dan ada jarak yang tumbuh diam-diam di antara kami, apalagi dengan waktu yang sedikit sekali (20 menit).
Lewat peran ini, saya belajar bahwa menjadi “anak” bukan berarti lemah atau sekadar bayangan dari sosok yang lebih besar. Justru di situlah kekuatannya. Karakter saya bukan pusat badai, tapi sayalah yang merasakan dampaknya paling dalam. Saya harus menunjukkan keberanian untuk bersuara, sekaligus kerentanan yang jujur. Dan di situlah saya merasa berkembang sebagai pribadi yang belajar memahami konflik, ego, dan harga diri dari sudut pandang yang lebih dewasa.
Uprak ini bagi saya sendiri bukan cuma soal tampil dan selesai. Ini soal bagaimana saya membawa emosi itu turun dari panggung dan menyadari bahwa setiap hubungan orang tua dan anak punya kompleksitasnya sendiri. Peran ini mengajarkan saya bahwa suara yang selama ini berada “di bawah badai” tetap punya kekuatan untuk terdengar.

Latihan KOREOOOO

Scarecrow Pantai ()_()

Anomali Koor Musik Vol. 1

Muka Melas, Tidur Pulas, Jadwal Pulang Tidak Jelas!
Pada akhirnya, saya bersyukur bisa merasakan dua sisi sekaligus, berdiri di atas panggung sebagai anak Francesco Lugano dan bekerja di belakang layar sebagai perkap. Dua peran ini memberi saya perspektif yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Di satu sisi, saya belajar menghidupkan emosi dan menyampaikan makna melalui karakter. Di sisi lain, saya belajar tentang tanggung jawab, ketelitian, dan kerja tim yang tidak selalu terlihat.
Pengalaman ini membuat saya lebih menghargai setiap proses dalam sebuah pertunjukan. Saya tidak hanya memahami bagaimana rasanya tampil, tetapi juga bagaimana rasanya membangun panggung itu sendiri. Karena itu, saya benar-benar bersyukur, sebab uprak ini bukan hanya tentang drama yang dipentaskan, tetapi juga tentang pelajaran dan kenangan bersama teman yang akan saya bawa jauh setelah tirai ditutup.





No responses yet