Lor Mee dengan Mahjong: Sebuah Cerita Kebersamaan
Pada suatu pagi yang hangat, sekitar Pocin SMA Katolik St. Louis 1 tidak seperti biasanya. Bukan sekedar tempat siswa berkumpul atau bepergian antar kelas, tetapi hari itu menjadi saat berlangsungnya pertandingan Mahjong yang penuh antusiasme. Di tengah suasana kompetitif tersebut, ada pemandangan lain yang tak kalah menarik, meja-meja panjang yang disusun rapi di sisi arena, lengkap dengan kompor portable, talenan, pisau, bahan-bahan segar, dan beberapa panci. Meja-meja itulah yang menjadi dapur dadakan tim kami, yang bertugas menghadirkan hidangan Lor Mee, kuliner khas Fujian.

Sejak awal, kami datang dengan semangat. Meski ruang yang tersedia terbatas, itu tidak mengurangi keseriusan kami. Kami memulai dengan membagi tugas secara adil. Ada yang mengiris bawang putih, ada yang memotong daging, ada yang mengawasi kuah, dan ada yang menyiapkan mi agar tidak terlalu lembek saat dicampurkan nanti. Begitu bawang mulai ditumis, aroma harumnya dengan cepat mengalahkan bau plastik papan mahjong dan udara luar yang berdebu, menarik perhatian beberapa penonton yang lewat. Mereka berhenti sejenak, sekadar melihat atau menanyakan apa yang sedang kami buat.
Proses membuat Lor Mee bukan sekadar memasak, tetapi seni meracik keseimbangan rasa. Kuahnya harus kental, namun tidak terlalu pekat. Rasanya harus gurih, namun tidak sampai menutupi keaslian bahan-bahannya. Kami menambahkan kecap asin, kaldu, dan sedikit demi sedikit tepung maizena. Ada beberapa kali ketika kuah hampir menjadi terlalu tebal, dan kami harus menambahkan air dan mencicipinya lagi. Momen itu justru mempererat kerja sama kami; setiap orang memberikan masukan, bukan untuk mengkritik, tetapi untuk menyempurnakan.

Sementara itu, suasana pertandingan Mahjong tetap berjalan ramai di belakang kami. Suara ketukan ubin Mahjong terdengar teratur, diselingi sorak kecil ketika ada pemain yang hampir menang. Namun, justru suara dan hiruk pikuk itulah yang menjadi latar hangat bagi proses memasak kami. Seakan dua kegiatan berbeda itu saling melengkapi: satu penuh strategi dan ketegangan, satu penuh aroma dan kebersamaan.
Saat mi dan kuah akhirnya menyatu dalam panci besar, kami mulai menata hasil masakan ke dalam mangkuk. Agar lebih menggugah selera, kami menambahkan irisan bawang daun di atasnya. Ketika mangkuk pertama disajikan kepada guru dan teman-teman yang menonton, kami saling menoleh dengan sedikit tegang. Namun seketika, ekspresi puas dari orang-orang yang mencicipinya membuat semua usaha kami terbayar.
Lor Mee yang kami sajikan bukan hanya hidangan yang menghangatkan perut. Tetapi menjadi simbol kekompakan, ketelitian, dan kebersamaan. Dari kompor portable yang berkali-kali perlu disesuaikan panasnya, meja makan yang berubah menjadi dapur darurat, hingga momen tawa kecil saat ada bumbu yang hampir salah takaran—semua itu menjadi bagian dari cerita yang akan selalu kami ingat.
Di tengah riuhnya pertandingan Mahjong di Pocin SMAK St. Louis 1, kami menemukan pelajaran bahwa memasak bukan hanya tentang makanan yang tersaji pada akhirnya, tetapi tentang proses yang dijalani bersama. Lor Mee itu bukan sekadar hidangan; itu adalah kenangan.
Anggota Kelompok 4:
- Bryan | 02
- Dave | 05
- Felix | 09
- Jerome | 15
- Keileen | 20
- Ken | 21
- Kimberly | 22
- Raka | 28
- Kasenda | 35
No responses yet