Dokumentasi Uprak – Stephanie Angeline Kasenda / XII A1 / 35

simulasi “aduh”

Peran saya di drama ini adalah sebagai scriptwriter, MC, narator, bendahara dan penyedia rumah saya sebagai tempat latihan. Dari semua tugas ini, saya belajar banyak sekali hal. Sebagai seorang scriptwriter, saya lebih mengenal kemampuan yang saya punya. Walaupun saya memiliki ide untuk drama, saya kesusahan dalam menginterpretasikannya menggunakan bahasa.

MC day two

Saya juga belajar hal yang mirip ketika menjadi MC dan narator. Pekerjaan kedua hal itu hanyalah berbicara, seharusnya merupakan tugas yang gampang karena semua orang bisa melakukan, tapi ternyata ada banyak hal yang harus diperhatikan. Mulai dari volume suara, intonasi, pengucapan, gaya bahasa, dan banyak lagi. Dari pengalaman ini saya juga semakin sadar bahwa saya lebih mahir di bahasa Inggris daripada Indonesia. Dari awal latihan bersama sie acara, saya dipuji karena narator saya pada saat bahasa Inggris bagus karena terdapat penghayatan, tapi hal tersebut tidak dirasakan pada saat Indonesia. Awalnya saya bingung mau diapakan, karena sejauh ini saya merasa saya sudah sungguh-sungguh dalam melakukan dua hal tersebut, tapi saya sadar bahwa ego saya harus diturunkan untuk mendapatkan hasil yang lebih sempurna.

bukti bukti dan bukti

Selanjutnya, saya menjadi bendahara. Awalnya saya tidak ditugaskan untuk mengatur uang kas untuk uprak, namun karena sistem pengeluaran yang membingungkan, akhirnya saya pun diberikan tugas ini untuk merapikan ulang perinciannya. Saya merasa dari semua tugas yang saya dapat, ini paling susah. Menjadi seorang bendahara harus teliti, rapi dan disiplin. Jika saya teledor dan telat sedikit untuk mendata, bisa saja semuanya menjadi berantakan lagi. Saya juga menjadi lebih sigap dan fast response, terutama karena setiap kali terjadi pembelian barang, saya langsung ditelepon untuk membayarnya walaupun berada di tempat lain. Saya juga harus tertib dalam mengumpulkan bukti pembelian agar data yang saya tulis akurat dan tidak terjadi pemalsuan. Tapi saya sungguh bahagia untuk mendapatkan tugas ini karena saya dapat menjadikan ini sebuah pengalaman yang bisa saya pakai untuk masa depan.

konsum yay

Yang terakhir adalah sebagai penyedia rumah. Dari awal saya sudah mengajukan diri agar rumah saya menjadi tempat latihan, tidak tahu apa yang ada di benak saya pada saat itu, tapi setelah melewati 3+ bulan, saya tidak menyesal. Sejujurnya, menurut saya tugas ini tugas juga sangat berat seperti selayaknya seorang bendahara, terutama karena saya juga harus standby 24/7. Sewaktu-waktu bisa saja koor perkap ataupun koor kostum menelepon saya karena mereka ingin mengambil barang. Bagi saya, hal itu sudah menjadi hal wajar, apalagi di tengah kesibukan kita ini. Sampai-sampai itu sudah menjadi lelucon bagi saya, setiap kali Jason atau koor perkap ini mengechat saya, saya sudah balas dengan “oh no” karena pasti ada aja yang ia butuhkan. Tapi yang sungguh membuat saya lelah itu semua kekacauan yang mereka buat. Mulai dari keberisikan mereka, sampah-sampah mereka, dan banyak lagi. Semakin hari bukannya mereka semakin terbiasa untuk membersihkan sampah mereka, mereka justru lebih seenaknya sendiri dan menganggap itu rumah mereka. Tapi justru dari peristiwa ini, ada sisi baiknya. Saya bahagia karena mereka nyaman dengan rumah saya, walaupun saya sering kepikiran apakah ada sesuatu lebih yang bisa saya lakukan kepada mereka selaku tuan rumah. Saya juga semakin sabar terhadap perilaku mereka. Terdapat kerusakan seperti keramik di rumah saya, cat dimana-mana, perkap yang tidak rapi di ruang tamu, ingin sekali saya marahin mereka satu per satu, tapi saya hanya bisa bersabar dan membicarakan keluh kesah saya ke Jason agar dia bisa membantu memperingatkan anak-anaknya. Saya juga belajar menjadi lebih disiplin dan mandiri karena konsisten membersihkan rumah setiap selesai latihan (hampir setiap hari).

Look how far we’ve come

All in all, I’m very grateful for this experience. The journey we have taken as a class creates this amazing family-like bond between us. After thousands of arguments and mishaps, we have finally achieved a memorable drama for us to remember not just for the near future, but for whenever we miss the sensation of being high schoolers. This masterpiece of ours is not just a “school project”, but it really is the greatest show we have done together as XII Anomal1.  

Stephanie Angeline Kasenda

XII A1 / 35



Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Latest Comments