Dokumentasi Uprak Martha_XIIA1_25_Koordinator Publikasi dan MUA

“Kesulitan kadang datang tiba – tiba dan tidak bisa kita prediksi, semua kembali pada kita bagaimana kita mengatasinya.” Mungkin kalimat itulah yang menggambarkan keadaan saya di drama ini. Saya berkesempatan menjadi seorang koordinator Publikasi dan MUA. Menjalani peran sebagai koordinator publikasi, koordinator MUA, sekaligus bagian dari sie dekorasi adalah sebuah hal yang tidak pernah saya sangka. Setiap peran membawa tantangannya sendiri, setiap tanggung jawab membuat ceritanya sendiri, jujur saya lumayan kesulitan memegang ketiga peran tersebut, tapi saya sangat senang karena mendapat banyak pengalaman susah senang bersama teman – teman.

Sebagai koordinator publikasi, saya menghabiskan begitu banyak waktu di depan layar. Revisi terus berdatangan terutama dari direktur dan wakil direktur kami. Desain yang sudah terasa bagus masih harus diperbaiki, warna yang menurut saya sudah pas ternyata perlu disesuaikan lagi. Rasanya super capek. Mata lelah, pikiran penuh, dan waktu terasa berjalan begitu cepat. Namun saya sadar, publikasi adalah bagian dari cerita Francesco Lugano di uprak kami. Dan ketika akhirnya hasil desain itu terpampang dengan indah, ketika orang-orang memuji dan merasa bangga, semua rasa lelah itu berubah menjadi kepuasan yang sulit dijelaskan. Saya sering begadang bersama teman – teman lain untuk menyelesaikan publikasi

Berbeda lagi ketika menjadi koordinator MUA. Kami baru benar-benar mulai serius saat gladi bersih, dan jujur saja, saya merasa sangat deg-degan. Persiapan terasa kurang, waktu latihan tidak sebanyak yang diharapkan. Saat latihan, proses make up sulit, hasilnya belum rapi, teknik masih kaku, dan rasa cemas terus menghantui. Saya sempat kebingungan, apakah ini akan berhasil? Namun anehnya, pada hari-H, suasananya berbeda. Semua terasa lebih tenang. Aktor yang sebelumnya sulit saya atur justru diam dan mengikuti semua arahan saya.  Ketika melihat hasil akhirnya di atas panggung, rasa gugup itu berubah menjadi rasa bangga. 

Sebagai bagian dari sie dekorasi, saya juga merasakan perjuangan yang tidak kalah berat. Membuat properti bukan sekadar merangkai bahan, tetapi menyatukan ide dengan kenyataan. Ada saatnya bahan kurang, ada properti yang hampir rusak, ada rasa lelah karena harus mengangkat dan menyusun berulang kali. Namun setiap tetes keringat itu terbayar ketika panggung berdiri dengan megah dan dekor menyatu dengan keseluruhan penampilan. Kami berhasil membuat kapal yang megah dari kardus dan triplek, itu sangat keren menurut kami. Mungkin tidak semua orang tahu siapa yang membuatnya, tetapi kami tahu betul proses panjang di baliknya.

Dari layar desain, ruang make up, hingga sudut panggung tempat properti dirakit, saya belajar satu hal, yaitu keindahan yang terlihat di depan selalu lahir dari perjuangan yang tidak terlihat. Dan di balik semua itu, kami tidak hanya menciptakan sebuah pertunjukan, tetapi juga bertumbuh menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih percaya diri dari sebelumnya.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Latest Comments