Dokumentasi Uprak Louis Hindrata_XIIA1_24_Francesco Lugano

latihan silhouette

Saya berperan sebagai romo lugano dan saya mengalami berbagai hal hal yang belum pernah saya alami sebelumnya seperti menyanyi sambil menari, dan akting. Pada awal saya berlatih saya tidak bisa menyanyi dengan teknik yang benar, tidak bisa menari dengan power yang tegas, dan kurang bisa untuk memberikan ekspresi yang sesuai dalam drama ini. Namun setelah berlatih terus, pada akhirnya saya bisa melakukan itu semua, meski tidak bisa sempurna tetapi setidaknya ada harmonisasi antara semuanya. Pada latihan silhoutte itu saya mengalami kesusahan untuk menghafalkan masuknya lagu karena ketukan untuk masuk lagu aneh menurut saya. Saya berlatih terus menerus untuk menghafal ketukan masuknya dan pada akhirnya juga bisa pas.

latihan inner monologue

Pada inner monolgue ini, saya awalnya sangat kaku dalam berekspresi dan bahkan malah ketawa karena malu untuk mengeluarkan ekspresi sedih. Namun saya sadar bahwa drama ini membutuhkan saya sebagai kunci suksesnya, dan saya melatih ekspresi saya terus saat sesudah latihan bersama. Saya memakai cermin dan menatap wajah saya di cermin sambil membuat ekspresi kaget, sedih, dan marah. Terkadang saya ketawa ketiwi sendiri karena menganggap hal yang saya lakukan ini aneh sekali. Namun pada akhirnya latihan saya bisa membuahkan hasil yang memuaskan pada drama ini.

latihan koreo come alive

Ini adalah salah satu latihan yang paling menantang bagi saya, baik secara fisik maupun psikis. Latihan koreo sambil menyanyi ini menghabiskan waktu dan tenaga yang paling banyak. Pada lagu pertama saya yaitu “A Million Dreams” saya diajarkan menari oleh teman saya Naomi, dan saya merasakan betapa sulitnya menari pada saat itu. Gerakan saya tidak sinkron dengan apa yang ada di pikiran saya. Saya terus melupakan gerakan saya dan saya tidak konsisten dalam menghafal gerakan, terkadang saya hafal dan terkadang tidak Pada awalnya saya merasa sudah melakukan gerakan secara bagus, tetapi saat saya lihat melalui video yang dibuat oleh teman saya, saya tertawa karena ternyata ekspetasiku tidak sesuai dengan realitanya. Pada awalnya menari saya sangat lemas dan tidak ada tenaganya, saya pikir menari hanya butuh keluwesan, tetapi saya salah total. Menari membutuhkan tenaga/power dan kejelasan gerakan agar enak dilihat. Setelah pelatihan yang sangat repetitif dan melelahkan, saya akhirnya bisa melakukan tari ini. Namun yang dibutuhkan bukan hanya tariannya saja, tetapi juga nyanyiannya. Saya menyanyi terus menerus sampai hafal diluar kepala, dan menari terus menerus sampai masuk dalam muscle memory. Akhirnya saat menggabungkan keduanya, hasilnya kacau balau. Pada akhirnya saya memaksa untuk menari sambil menyanyi, tetapi pelan pelan sehingga koordinasi antara pikiran, mulut, dan badan saya berjalan. Dan cara itu berhasil, saya mempercepat ketukannya perlahan lahan sampai akhirnya menggunakan ketukan normal lagu dan bisa menari sambil menyanyi.

Namun itu hanya lagu pertama.

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Latest Comments