Dokumentasi Uprak Ken Rayden Sanjaya – XIIA1 – 21 – Aktor-Scriptwriter

Menjadi Banyak dalam Satu Pementasan : Refleksi UPRAK

Dalam pagelaran ujian praktek ini, saya Ken Rayden Sanjaya diberkati dan diberikan kepercayaan untuk mendapatkan berbagai peran : script writer, properti, penari laut dan aktor. Saya sangat bersyukur dan bangga karena dapat berkontribusi dalam segala aspek dengan segala kemampuan saya. Pada refleksi ini, saya akan membahas lebih dalam senang- susahnya memerankan aktor yang saya perankan. Dalam drama Francesco Lugano Beneath The Storm, saya tidak lagi dikenal sebagai Ken yang murah senyum dan murid baik, melainkan saya dikenal dengan Asep, seorang kepala geng nelayan di Desa Karanggoso yang berwibawa dan memiliki luka yang mendalam akibat penjajahan. Sebagai Asep, saya harus berwibawa memiliki wajah galak dan model bossy. Dengan model wajah settingan senyum, peran ini membuat saya harus belajar dan lebih mendengar kritikan dan masukan dari orang – orang. Tak hanya itu, saya juga memiliki suara yang cempring harus saya ubah menjadi suara yang galak agar karakter Asep memiliki Wibawa dan dikenal dengan keberaniannya. Dengan ini membuat saya harus berlatih dan berpikir bagaimana caranya agar saya dapat memerankan Asep sepenuhnya agar saya dapat menampilkan sosok Asep dalam drama dengan baik dan all out. Dengan berlatih sungguh – sungguh dan fokus setiap latihan drama dan mendengarkan masukan dari orang orang agar dapat menjadi Asep sepenuhnya saya berhasil dapat memerankan Asep dengan baik dan menunjukkan wibawa Asep didepan panggung. 

Selain menjadi Aktor, saya juga memiliki berbagai peran sampingan seperti Script writer. Saat menjadi script writer saya hanya dapat memberikan berbagai ide seperti bagaimana alur drama seharusnya dibuat agar penonton dapat mengerti maksud dari scene – scene yang muncul dan memberikan beberapa masukan pada scene – scene. Saya sangat senang dapat berkontribusi dalam scriptwriter walaupun hanya sebagai anggota saya merasa cukup. 

Saya juga menjadi penari laut dan properti. Pada penari laut saya awalnya malu dan kurang bisa mengekspresikan gerakan laut melalui tubuh saya namun pada lama kelamaan saya juga terbiasa karena gerakan ini dilatih setiap hari yang membuat saya dapat memahami gerakan laut dan memberikan tarian yang maksimal pada hari pentas. Saat menjadi properti saya sempat beberapa kali membantu kecil kecil seperti pembuatan bush dan pembuatan kapal dan pengecatan kapal. Walaupun tidak berdampak secara besar tetapi saya merasa senang dan bangga menjadi properti bahkan hingga saat hari pentas walaupun kaki saya kesakitan saya beberapa kali sempat membantu keluar dan masuknya properti dalam drama. 

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Latest Comments